Perenang Ryan Lochte minta maaf atas klaim perampokan di Brasil


Perenang AS Ryan Lochte meminta maaf pada warga Brasil setelah "melebih-lebihkan" klaim bahwa dia ditodong senjata dan dirampok saat berada di Olimpiade Rio.

Lochte sebelumnya mengatakan bahwa dia dan tiga perenang AS lainnya dirampok di pom bensin.

Namun rekaman CCTV membantah cerita tersebut, dan menunjukkan bahwa para perenang merusak pom bensin.

Pada Globo, saluran terbesar Brasil, Lochte mengatakan bahwa dia tidak berbohong atas apa yang terjadi.
"Sampai titik tertentu, saya tidak berbohong. Saya melebih-lebihkan apa yang terjadi pada saya."

Dia juga menambahkan bahwa dia minta maaf, dan mengatakan, "Brasil tak pantas menerimanya."

Komite Olimpiade Internasional sudah membentuk komisi disipliner untuk menyelidiki insiden tersebut dan perilaku empat atlet.

Berita akan perampokan muncul pada Minggu (14/7) lalu lewat ibu Lochte.

Pada Rabu lalu, dua perenang, Gunnar Bentz dan Jack Conger, diambil dari pesawat menuju AS di bandara Rio de Janeiro dan diinterogasi polisi.

Keduanya kemudian boleh meninggalkan negara tersebut. Perenang lain, Jimmy Feigen sepakat untuk membayar $11.000 atau sekitar hampir Rp145 juta setelah insiden tersebut.

Pada Jumat, lewat sebuah pernyataan, Conger mengatakan bahwa Lochte menarik iklan besi dari bingkainya dan dijatuhkan, tapi Conger "tak yakin apa alasannya".

Lochte menurutnya juga mulai berteriak-teriak pada penjaga keamanan. Lalu pria tersebut sepakat untuk membayar kerugian pada penjaga.

Dalam wawancara terpisah dengan jaringan televisi NBC, Lochte juga mengatakan dia merasa "sedih" melihat rekaman rekan setimnya dipaksa turun dari pesawat. Lochte sudah kembali ke Amerika Serikat dari Brasil.

"Saya mengecewakan tim saya dan saya tidak mau mereka berpikir bahwa saya mengorbankan mereka," katanya.

Meski begitu, dia tetap mengatakan bahwa mereka diancam dan dipaksa membayar.

"Terserah Anda menyebutnya perampokan atau pemerasan atau kami membayar ganti rugi, kami tidak tahu. Yang kami tahu, ada senjata yang diarahkan pada kami dan kami dimintai uang."
Next
Previous
Click here for Comments

0 comments: